MENGKRITISI KAJIAN BERNAD LEWIS TERHADAP
PERADABAN ISLAM DALAM BUKU “KEMELUT
PERADABAN KRISTEN, ISLAM DAN YAHUDI”[1]
Oleh: Dhuha Fadlil Kurniawan[2]
1.
Pendahuluan
Mengkaji sejarah peradaban
Islam ketika berhadapan dengan Kristen memang menarik. Sebab keduanya itu
merupakan peradaban yang paling kelihatan pergerakanya dari abad pertama hingga
abad ini, dibandingkan dengan peradaban-peradaban agama lain. Juga kata
sebagian orientalis kedua agama tersebut
termasuk agama langit (samawiyun) meskipun itu tidaklah benar adanya.
Ada seorang sejarawan
sekaligus orientalis dari Barat bernama Bernard Lewis. Ia tertarik untuk
mengkaji peradaban Islam, Kristen, dan Yahudi-sehingga membuat sebuah buku yang
berjudul ‘Cultures in Conflict Christian, Muslim and Jews’-yang sebagian
di angkat berdasarkan tesisnya.
Lewis mengatakan bahwa
alasan ia tertarik mengkaji peradaban Islam, Kristen, dan Yahudi disebabkan
ketika ia mengikuti perkuliahan Merle Curti pada bulan Mei 1992 di Universitas
Wisconsin Madison-yang membahas tentang peristiwa 1492. Ungkap Lewis,
“Tema-tema
yang disampaikan dalam rangka Peringatan Peristiwa 1492 cukup beragam dan
berbeda dari apa yang dipahami dan diperingati oleh masyarakat di berbagai belahan dunia pada umumnya.
Tujuan saya ingin membawa perhatian
(pembaca) kembali kepada beberapa peristiwa yang juga terjadi pada tahun 1492
itu, khususnya peristiwa penaklukan umat Kristen terhadap Granada, basis
pertahanan terakhir Muslim yang ada di semenanjung Iberia, serta peristiwa
pengusiran umat Yahudi dari Spanyol yang
terjadi beberapa tahun kemudian.[3]
Oleh karena Bernard Lewis
merupakan seorang orientalis Barat yang mencoba mengkaji sejarah peradaban
Islam dalam risetnya. Penulis akan mengkritisi pernyataan-pernyataannya ataupun
hasil temuannya secara seksama pada
pembahasan berikutnya.
2.
Pembahasan
Biografi Bernard Lewis
Bernard Lewis lahir pada 31
Mei 1916 di London, Inggris. Ia adalah sejarawan yang menjabat sebagai guru
besar bidang Timur Tengah di Princeton University, Amerika Serikat. Lewis
mendalami sejarah Islam serta hubungan kebudayaan Barat dan Islam. Ia dikenal karena
karyanya tentang sejarah Kekhalifahan Utsmaniyah Turki dan debat intelektualnya
dengan Erward Said tentang konflik Israel dan Pelestina.[4]
Lewis juga banyak menulis
buku tentang Islam dan peradaban Timur Tengah, di antaranya The Assassins: A
Radical Sect in Islam, The Arabs in History, The Emergency of Modern Turkey, The
Muslim Discovery of Europe, The Class Between Islam, Modernity in the
Modern Midlle East dan The Crisis of Islam: Holy War and the Unholy
Terror.
Pujian Terhadap
Islam
Dikarenakan pada makalah ini
akan menanggapi pendapat-pendapat dari Bernard Lewis tentang peradaban Islam, maka penulis sebagian besar
akan mengambil pendapat-pendapat Bernard Lewis dari karyanya sendiri, yaitu
buku ‘Kemelut Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi’ yang pernah
diterbitkan oleh IRCiSoD pada tahun 2001.
Pada halaman-halaman awal
bukunya, Lewis banyak mengungkapkan prestasi-prestasi kegemilangan peradaban
Islam. Pertama, Peradaban Islam adalah
peradaban awal yang bisa dikatakan universal, dengan pengertian terdiri dari
berbagai unsur masyarakat dari beraneka ragam ras dan budaya di tiga benua berbeda. Di beberapa wilayah
Eropa-Spanyol, Italia Selatan, daerah stepa-stepa Rusia dan semenanjung Balkan
Islam mengalami masa keemasan selama
beberapa abad. Begitu juga bukti-bukti sejarah yang terdapat di Asia dan
Afrika. Islam dianut oleh masyarakat berkulit putih, hitam, cokelat, dan
kuning. Secara teritorial pun, Islam membentang dari Eropa selatan sampai ke
Jantung Afrika dan Asia.[5]
Kedua, gelombang penaklukan
Islam atas masyarakat Kristen di Eropa bahkan sampai dilancarkan tiga kali.
Gelombang pertama dimulai pada awal abad VIII dan dalam waktu singkat dapat
menguasai wilayah Spanyol, Portugal, Italia Selatan, dan Prancis. Gelombang
kedua yang meluluhlantakkan Eropa Timur (yang) dilakukan oleh bangsa Mongol,
yang juga mengukuhkan dominasinya di seluruh wilayah Rusia dan sebagian besar
Eropa Timur. Kemudian (masyarakatnya) memeluk agama Islam dan tunduk pada
penguasanya.
Gelombang ketiga dilakukan
oleh Bani Saljuk dan Turki Utsmani. Setelah menaklukan Anatolia melalui
Imperium Bizantium, lalu menuju Eropa, dan selanjutnya mendirikan Imperium
besar di Semenanjung Balkan. Selama masa keemasan Islam itu, Turki menaklukkan
Konstantinopel dan dua kali mengepung Vienna, kemudian kapal-kapal mujahid
di lautan Barbar meneruskan pelayaran jihad sampai kepulauan Inggris, bahkan
(sampai) ke daerah Iceland.[6]
Ada rasa khawatir yang
mencekam dalam diri orang-orang Eropa ketika membicarakan Islam dan masyarakat
Muslim yang menjadi lawan mereka, seperti bangsa Moor, Saracen, Tar-tar, dan
Mongol. Keterkungkungan Eropa Kristen oleh Islam Rusia tergambar dalam
puisi-puisi dan polemik-polemik yang terdapat dalam karikatur sejarah dan
sastra. Bagaimanapun dunia Islam waktu itu menyadari keberadaan Eropa bukanlah
hanya sekedar suku Barbarian, sebagaimana tetangga dunia Muslim lainnya di Asia
dan Afrika. Eropa dianggap sebagai pemeluk agama musuh dengan sistem politik
yang bertentangan, serta memiliki klaim tantangan dalam mendakwahkan dan
melaksanakan pesan serta hukum universal ke seluruh umat manusia.[7]
Islam dan Kristen
Antara
Islam dan Kristen terdapat perselisihan yang tidak dapat dihindari dan tidak
kunjung selesai. Perseteruan tersebut tidaklah berkaitan dengan timbulnya misperception
dan misunderstanding (dari) kedua
kubu itu. Di lain pihak, toleransi yang cukup tinggi yang ditunjukkan oleh
kedua bangsa (Islam dan Kristen) terhadap bangsa-bangsa lain yang juga menjadi
lawan mereka, seperti bangsa-bangsa di Asia dan Amerika pra-Colombus.
Islam dan Kristen masing-masing punya kepentingan, atau lebih
tepatnya perebutan pengaruh kekuasaan. Keduanya juga mendapatkan warisan yang
sangat bernilai dari berbagai bangsa dan memperoleh sumber sains dan filsafat
dari Yunani, hukum dan sistem pemerintahan dari Romawi, etika monoteis dari
Yahudi, dan lebih jauh lagi akar budaya
Timur Tengah Kuno.[8]
Memang
sudah menjadi kenyataan, Islam dan Kristen satu sama lain saling mengkafirkan,
namun sebenarnya pada saat yang bersamaan keduanya memiliki kemiripan, bahkan
dalam segi peribadatan sekalipun. Keduanya mengaku memiliki universalitas
kebenaran dari Tuhan, dan tugas merekalah untuk menyebarkan kebenaran tersebut
ke seluruh dunia. Sebagai imbalan dari pemenuhan kewajiban ilahiyah ini, mereka
mengharapkan balasan surga abadi dan, untuk sementara adalah imbalan material
dalam kehidupan dunia. Bagi orang-orang yang di luar iman, mereka akan
menderita di dunia dan akhirat.
Pada dasarnya ide muslim dan
Kristiani tentang hari pengadilan, hukuman dan hari pembalasan di akhirat nanti
adalah sama, walaupun tidak identik. Tetapi “surga” mereka berbeda secara
signifikan. Sedangkan “neraka” dalam ide masing-masing dapat dikatakan sama.
Konsep-konsep seperti ini tidak akan ditemui dalam tradisi Hindu, Budha atau
Konfusius.[9]
Bantahan terhadap Bernard Lewis
Jika membaca sekilas pada halaman-halaman di awal
buku “Kemelut Peradaban
Kristen, Islam Dan Yahudi”, maka akan dijumpai Lewis
banyak mengungkapkan pujiannya terhadap peradaban Islam. Seolah ia
menyampingkan Kristen sebagai agama
mayoritas di benua ia dilahirkan. Namun ketika dicermati lebih dalam
pujian-pujian Lewis itu, maka akan ditemukan beberapa kesimpulan Lewis terhadap
peradaban Islam yang keliru atau perlu diluruskan.
Dalam bukunya pada halaman 25, Lewis menyatakan
bahwa Eropa dianggap sebagai agama musuh
(bagi umat Islam) yang memiliki klaim
dalam mendakwahkan dan melaksanakan
pesan dan hukum universal ke seluruh umat manusia. Padahal pada tahun 1487 M ketika itu tim Inkuisisi Spanyol mendzalimi
dan menyiksa ribuan Muslim, Yahudi dan Kristen yang tidak sepaham dengan
Gereja-dengan sangat keji dan tidak berperikemanusiaan. Ada tujuh belas
pengadilan Inkuisisi di Spanyol dan masing-masing membakar rata-rata 10 pelaku
bid’ah dalam Katolik. Setahun Tim Inkuisisi menyiksa dan memotong kaki atau
tangan ribuan orang lainnya yang hampir tidak bisa pulih dari luka-lukanya.
Selama masa Inkuisisi di Spanyol diperkirakan ada sekitar 32.000 orang yang
kesalahannya tidak sepaham dengan doktrin Paus, atau yang telah dituduh
melakukan kejahatan takhayul kemudian disiksa di luar imajinasi kemudian
dibakar hidup-hidup.[10]
Proses
penyiksaan itu diketuai oleh Paus
Innocentius VIII dan menyuruh pendeta
Dominikan dan Tomas de Torquemada sebagai pelaksana Inkuisisi Agung. Jika
demikian adanya apakah bisa kejahatan dan penyiksaan umat manusia atas nama
agama kemudian dapat dibenarkan sebagai hukum universal ?
Masih pada halaman yang
sama, Lewis mengatakan, “Umat Islam meyakini bahwa perang hanya akan
berakhir bila kalimah Allah fil al-ardh telah ditegakkan di seluruh permukaan
bumi.”. Dalam kasus ini ia beranggapan bahwa Islam adalah agama perang atau
ketika dalam menyebarkan agamanya hanya lewat perang.
Penulis berhipotesa bahwa
Lewis tidak utuh atau tidak adil dalam mengkaji sejarah peradaban Islam,
tentunya sejarah peradaban Islam dari zaman kerasulan Muhammad Saw. hingga zaman ia (Bernard Lewis) hidup. Padahal
tidak demikian adanya, sebab sudah terbukti dalam sejarah bahwa Muhammad Saw.
adalah pemimpin tertinggi umat Islam yang sering memulai dakwahnya dengan cara
menawarkan Islam pada umat yang belum mengenal ajaran Islam. Ada beberapa penguasa
yang oleh Rasulullah pernah dikirimi surat yang berisikan tentang ajakan masuk Islam, di antaranya Raja
Heraclius (kaisar Romawi), Raja Negus (penguasa
Ethiopia), dan Raja Khusrau (penguasa Persia). Juga ketika Rasulullah
Saw berdakwah ke Tha’if, yang pada waktu itu beliau malah dilempari batu oleh
kaumnya hingga kakinya berlumuran darah. Beliau
tidak melawan, bahkan malah mendoakan kaumnya jika hari itu tidak
menerima Islam, namun anak-cucu keturunannya diharapkan bisa mendapatkan
hidayah Islam nantinya.
Kemiripan Peribadatan
Berikutnya, pada halaman 26,
Lewis membuat paragraf baru dengan menyatakan:
“Memang
sudah jadi kenyataan, Kristen dan Islam satu sama lain saling mengkafirkan,
namun sebenarnya pada saat yang bersamaan, keduanya memiliki kemiripan bahkan
dalam segi peribadatan sekalipun. Keduanya
mengaku memiliki universalitas kebenaran yang final dari Kalam Tuhan, dan tugas
merekalah untuk menyebarkan kebenaran tersebut ke seluruh permukaan bumi.”
Tentu
pernyataan Bernard Lewis di atas perlu untuk diluruskan. Pertama, ia
berpendapat bahwa Islam dan Kristen
memiliki kemiripan dalam segi peribadatan. Dalam Islam ada ibadah sholat, puasa, membayar zakat dan
menunaikan haji-yang kesemuanya itu
merupakan ibadah pokok umat Islam. Ibadah-ibadah tersebut dikuatkan oleh dalil-dalil
dalam Al-Qur’an sebagai kitab pokok agama Islam. Di antara dalil-dalilnya
ialah.
Artinya: “Dan dirikanlah sholat, dan tunaikanlah zakat
dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku’.”. Q.S al-Baqarah ayat 43.
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertakwa.” Q.S al-Baqarah ayat: 183.
Artinya: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di
antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi
amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu
(bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa
mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak
memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” Q.S Ali Imran ayat: 97.
Dalam agama
Kristen tentu tidak ada ibadah-ibadah seperti dalam agama Islam. Ibadah dalam Kristen seperti keharusan
merayakan Natal dan menyanyikan lagu-lagu di gereja tentu tidak sama dengan
ibadah umat Islam, bahkan hal tersebut tidak mempunyai dasar dalam Bibel.
Kedua, Lewis
berpendapat bahwa Islam dan Kristen memiliki keuniversalitas
kebenaran yang final dari Kalam Tuhan. Tentu pendapat tersebut perlu untuk
dikoreksi, sebab dalam agama Kristen hingga hari ini masih ada sekte yang
memperdebatkan tentang teori trinitas.
Ada sekte Katolik dan Protestan yang bersikukuh mempercayai teori
trinitas ketuhanannya. Ada pula sekte
dari Kristen yang menolak tentang teori trinitas ketuhanannya, mereka adalah
kelompok Kristen Nestorian. Padahal teori tentang ketuhanan merupakan hal yang sangat
pokok atau prinsip dalam suatu agama.
Salah satu ayat bibel
berbunyi, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal
engkau satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus kristus yang telah
engkau utus.” (Yohanes 17:3). Dalam ayat tersebut dengan sangat jelas menjelaskan bahwa Tuhan itu satu
dan Yesus merupakan seorang utusan. Tidak heran jika sampai hari ini banyak umat Kristen yang kebingungan dengan
teori trinitas. Sehingga banyak umat Kristen dan pendetanya lebih memilih
menjadi seorang atheis-daripada hidup dalam kebingungan, namun tidak sedikit
juga dari mereka yang akhirnya memeluk agama Islam.
Islam Mengadopsi
Kekeliruan Lewis selanjutnya
adalah, ia menyatakan, “Islam memperoleh berbagai sumber sains dan
filsafat dari Yunani, hukum dan sistem
pemerintahan dari Romawi, etika monoteis dari Yahudi”. Penulis akan
mengulas pada paragraf berikutnya.
Pertama, Islam memperoleh berbagai
sumber sains dan filsafat dari bangsa
Yunani tidaklah sepenuhnya benar. Sebab ketika Eropa mengalami the Dark Age
banyak para ilmuwan muslim yang mengembangkan sains. Ilmuwan-ilmuwan Muslim
ketika masa Dinasti Abasyiah terkenal
dengan penemuan-penemuan baru dalam bidang sains dan teknologi. Di antara
Ilmuwan-ilmuwan Muslim yang terkenal seperti Ibnu al-Haitsam, Al-Khwarizmi,
Ibnu Rusyd, dan Ibnu Sina. Selain mereka sebagai ilmuwan Muslim, merek juga
merupakan seorang ulama. Dasar mereka menemukan sains adalah karena inspirasi
yang begitu besar dari ayat-ayat Al-Qur’anul Karim. Salah satu ayat yang
menginspirasi mereka adalah ayat 190-191 dari surat Ali Imron, yang berbunyi
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil
berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang
penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami
dari siksa neraka.”
Kedua, sejak kelahirannya
yang dipimpin oleh Muhammad, Islam menggunakan sistem aturan yang berdasarkan
dari kitab sucinya yaitu Al-Qur’an atas wahyu dari Allah. Di antara ayat-ayat
Al-Qur’an yang menjadi dasar adalah :
“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah
Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan Uli al-Amri diantara kamu. Kemudian jika
kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah
(al-Qur’an) dan Rasulnya (al-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)dan lebih baik
akibatnya.” (Al-Qur’an Surat an Nisa ayat : 59)
“Dan apabila mereka ditimpa suatu hal,
keamanan atau ketakutan, mereka siarkan (kepada musuh). Dan kalau mereka
serahkan hal itu kepada Rasul atau kepada Ulil Amri (yang mempunyai urusan
diantara kamu), niscaya orang-orang yang meneliti di antara mereka mengetahui
hal itu.” (Al-Qur’an Surat an Nisa ayat : 83)
Ketiga,
istilah monoteisme bukanlah berasal dari Islam, jadi Islam tidak pernah meniru
konsep monoteisme dari Yahudi ataupun agama lain. Islam mempunyai konsep
tersendiri yang bernama tauhid, yang sangat berbeda dengan monoteisme.
Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang berisikan konsep tauhid adalah:
Artinya: “Katakanlah: "Dia-lah Allah,
yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas ayat : 1)
Artinya : “Allah menyatakan bahwasanya tidak
ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para
Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak
ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Ali Imron ayat : 18)
3.
Kesimpulan
Kajian-kajian Lewis terhadap
peradaban Islam terlihat tidak komprehensif. Wajar ia seorang orientalis Barat
yang berangkat dari worldview yang berbeda dari umat Islam. Dalam memahami Islam, ia tampak kebingungan dalam
mengartikan dan memahami istilah tauhid, jihad, dan tasamuh dalam
Islam. Sehingga Lewis sering mengeneralisir
ataupun mereduksi arti
istilah-istilah yang sudah baku dalam Islam.
Islam bukanlah agama yang
meniru atau turunan Yahudi dan Kristen, yang dalam Kristen menyebut sebagai
bid’ah terbesar dari Kristen. Islam mempunyai konsep tauhid, yaitu
konsep menunggalkan Allah. Tentu ini konsep yang tidak dipunyai oleh agama lain
selain Islam. Wallahu a’lam bishawab.
Daftar Pustaka
Buku
Lewis,
Bernard, “Kemelut Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi, Yogyakarta:
IRCiSoD, 2001.
_____________,
“Assassin: Kaum Pembunuh dari Lembah Alamut, (Yogyakarta: Haura Pustaka,
2009.
Internet
http://www.muslimdaily.net/artikel/studiislam/kekejaman-dewan-inkuisisi-gereja-spanyol.html di akses pada tanggal 17 Januari 2016 pukul
10.23 wib.
[1] Makalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah Islamic Worldview, yang di ampu oleh ustad Arif Wibowo,
S.P., M.P.I dan ustad Muhammad Isa Anshory, S.S., M.P.I.
[2] Maha Santri Ma’had Aly
Imam Al Ghozaly, Karanganyar, Jawa Tengah.
[3] Bernard Lewis, Kemelut
Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2001), hlm. 9.
[4] Bernard Lewis, Assassin:
Kaum Pembunuh dari Lembah Alamut, (Yogyakarta: Haura Pustaka, 2009), pada
lampiran terakhir sebelum sampul belakang.
[5] Bernard Lewis, Kemelut
Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi., Op.cit., hlm. 20.
[6] Ibid, hlm. 22.
[7] Ibid, hlm. 23,24,25.
[8] Ibid, hlm. 26.
[9] Ibid, hlm. 26-27.
[10] http://www.muslimdaily.net/artikel/studiislam/kekejaman-dewan-inkuisisi-gereja-spanyol.html di akses pada tanggal 17 Januari 2016 pukul
10.23 wib.