Rabu, 24 Februari 2016

MENGKRITISI KAJIAN BERNAD LEWIS TERHADAP PERADABAN ISLAM DALAM BUKU “KEMELUT PERADABAN KRISTEN, ISLAM DAN YAHUDI

MENGKRITISI KAJIAN BERNAD LEWIS TERHADAP PERADABAN ISLAM DALAM BUKU  KEMELUT PERADABAN KRISTEN, ISLAM DAN YAHUDI”[1]

Oleh: Dhuha Fadlil Kurniawan[2]

1.         Pendahuluan 

Mengkaji sejarah peradaban Islam ketika berhadapan dengan Kristen memang menarik. Sebab keduanya itu merupakan peradaban yang paling kelihatan pergerakanya dari abad pertama hingga abad ini, dibandingkan dengan peradaban-peradaban agama lain. Juga kata sebagian orientalis kedua  agama tersebut termasuk agama langit (samawiyun) meskipun itu tidaklah benar adanya.

Ada seorang sejarawan sekaligus orientalis dari Barat bernama Bernard Lewis. Ia tertarik untuk mengkaji peradaban Islam, Kristen, dan Yahudi-sehingga membuat sebuah buku yang berjudul ‘Cultures in Conflict Christian, Muslim and Jews’-yang sebagian di angkat berdasarkan tesisnya.  

Lewis mengatakan bahwa alasan ia tertarik mengkaji peradaban Islam, Kristen, dan Yahudi disebabkan ketika ia mengikuti perkuliahan Merle Curti pada bulan Mei 1992 di Universitas Wisconsin Madison-yang membahas tentang peristiwa 1492. Ungkap Lewis,

“Tema-tema yang disampaikan dalam rangka Peringatan Peristiwa 1492 cukup beragam dan berbeda dari apa yang dipahami dan diperingati oleh masyarakat  di berbagai belahan dunia pada umumnya. Tujuan  saya ingin membawa perhatian (pembaca) kembali kepada beberapa peristiwa yang juga terjadi pada tahun 1492 itu, khususnya peristiwa penaklukan umat Kristen terhadap Granada, basis pertahanan terakhir Muslim yang ada di semenanjung Iberia, serta peristiwa pengusiran umat Yahudi dari Spanyol  yang terjadi beberapa tahun kemudian.[3]

Oleh karena Bernard Lewis merupakan seorang orientalis Barat yang mencoba mengkaji sejarah peradaban Islam dalam risetnya. Penulis akan mengkritisi pernyataan-pernyataannya ataupun hasil temuannya secara seksama pada  pembahasan berikutnya. 

2.   Pembahasan

Biografi Bernard Lewis

Bernard Lewis lahir pada 31 Mei 1916 di London, Inggris. Ia adalah sejarawan yang menjabat sebagai guru besar bidang Timur Tengah di Princeton University, Amerika Serikat. Lewis mendalami sejarah Islam serta hubungan kebudayaan Barat dan Islam. Ia dikenal karena karyanya tentang sejarah Kekhalifahan Utsmaniyah Turki dan debat intelektualnya dengan Erward Said tentang konflik Israel dan Pelestina.[4]

Lewis juga banyak menulis buku tentang Islam dan peradaban Timur Tengah, di antaranya The Assassins: A Radical Sect in Islam, The Arabs in History, The Emergency of Modern Turkey, The Muslim Discovery of Europe, The Class Between Islam, Modernity in the Modern Midlle East dan The Crisis of Islam: Holy War and the Unholy Terror.

Pujian Terhadap Islam

Dikarenakan pada makalah ini akan menanggapi pendapat-pendapat dari Bernard Lewis tentang  peradaban Islam, maka penulis sebagian besar akan mengambil pendapat-pendapat Bernard Lewis dari karyanya sendiri, yaitu buku ‘Kemelut Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi’ yang pernah diterbitkan oleh IRCiSoD pada tahun 2001.
Pada halaman-halaman awal bukunya, Lewis banyak mengungkapkan prestasi-prestasi kegemilangan peradaban Islam.  Pertama, Peradaban Islam adalah peradaban awal yang bisa dikatakan universal, dengan pengertian terdiri dari berbagai unsur masyarakat dari beraneka ragam ras dan budaya di tiga  benua berbeda. Di beberapa wilayah Eropa-Spanyol, Italia Selatan, daerah stepa-stepa Rusia dan semenanjung Balkan Islam mengalami masa keemasan selama  beberapa abad. Begitu juga bukti-bukti sejarah yang terdapat di Asia dan Afrika. Islam dianut oleh masyarakat berkulit putih, hitam, cokelat, dan kuning. Secara teritorial pun, Islam membentang dari Eropa selatan sampai ke Jantung Afrika dan Asia.[5]

Kedua, gelombang penaklukan Islam atas masyarakat Kristen di Eropa bahkan sampai dilancarkan tiga kali. Gelombang pertama dimulai pada awal abad VIII dan dalam waktu singkat dapat menguasai wilayah Spanyol, Portugal, Italia Selatan, dan Prancis. Gelombang kedua yang meluluhlantakkan Eropa Timur (yang) dilakukan oleh bangsa Mongol, yang juga mengukuhkan dominasinya di seluruh wilayah Rusia dan sebagian besar Eropa Timur. Kemudian (masyarakatnya) memeluk agama Islam dan tunduk pada penguasanya.

Gelombang ketiga dilakukan oleh Bani Saljuk dan Turki Utsmani. Setelah menaklukan Anatolia melalui Imperium Bizantium, lalu menuju Eropa, dan selanjutnya mendirikan Imperium besar di Semenanjung Balkan. Selama masa keemasan Islam itu, Turki menaklukkan Konstantinopel dan dua kali mengepung Vienna, kemudian kapal-kapal mujahid di lautan Barbar meneruskan pelayaran jihad sampai kepulauan Inggris, bahkan (sampai) ke  daerah Iceland.[6]

Ada rasa khawatir yang mencekam dalam diri orang-orang Eropa ketika membicarakan Islam dan masyarakat Muslim yang menjadi lawan mereka, seperti bangsa Moor, Saracen, Tar-tar, dan Mongol. Keterkungkungan Eropa Kristen oleh Islam Rusia tergambar dalam puisi-puisi dan polemik-polemik yang terdapat dalam karikatur sejarah dan sastra. Bagaimanapun dunia Islam waktu itu menyadari keberadaan Eropa bukanlah hanya sekedar suku Barbarian, sebagaimana tetangga dunia Muslim lainnya di Asia dan Afrika. Eropa dianggap sebagai pemeluk agama musuh dengan sistem politik yang bertentangan, serta memiliki klaim tantangan dalam mendakwahkan dan melaksanakan pesan serta hukum universal ke seluruh umat manusia.[7]

Islam dan Kristen

            Antara Islam dan Kristen terdapat perselisihan yang tidak dapat dihindari dan tidak kunjung selesai. Perseteruan tersebut tidaklah berkaitan dengan timbulnya misperception dan misunderstanding  (dari) kedua kubu itu. Di lain pihak, toleransi yang cukup tinggi yang ditunjukkan oleh kedua bangsa (Islam dan Kristen) terhadap bangsa-bangsa lain yang juga menjadi lawan mereka, seperti bangsa-bangsa di Asia dan Amerika pra-Colombus.  

Islam dan Kristen  masing-masing punya kepentingan, atau lebih tepatnya perebutan pengaruh kekuasaan. Keduanya juga mendapatkan warisan yang sangat bernilai dari berbagai bangsa dan memperoleh sumber sains dan filsafat dari Yunani, hukum dan sistem pemerintahan dari Romawi, etika monoteis dari Yahudi, dan lebih jauh lagi akar  budaya Timur Tengah Kuno.[8]

            Memang sudah menjadi kenyataan, Islam dan Kristen satu sama lain saling mengkafirkan, namun sebenarnya pada saat yang bersamaan keduanya memiliki kemiripan, bahkan dalam segi peribadatan sekalipun. Keduanya mengaku memiliki universalitas kebenaran dari Tuhan, dan tugas merekalah untuk menyebarkan kebenaran tersebut ke seluruh dunia. Sebagai imbalan dari pemenuhan kewajiban ilahiyah ini, mereka mengharapkan balasan surga abadi dan, untuk sementara adalah imbalan material dalam kehidupan dunia. Bagi orang-orang yang di luar iman, mereka akan menderita di dunia dan akhirat.
Pada dasarnya ide muslim dan Kristiani tentang hari pengadilan, hukuman dan hari pembalasan di akhirat nanti adalah sama, walaupun tidak identik. Tetapi “surga” mereka berbeda secara signifikan. Sedangkan “neraka” dalam ide masing-masing dapat dikatakan sama. Konsep-konsep seperti ini tidak akan ditemui dalam tradisi Hindu, Budha atau Konfusius.[9]

Bantahan terhadap Bernard Lewis
           
            Jika membaca sekilas pada halaman-halaman di awal buku  Kemelut Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi”, maka akan dijumpai Lewis banyak mengungkapkan pujiannya terhadap peradaban Islam. Seolah ia menyampingkan  Kristen sebagai agama mayoritas di benua ia dilahirkan. Namun ketika dicermati lebih dalam pujian-pujian Lewis itu, maka akan ditemukan beberapa kesimpulan Lewis terhadap peradaban Islam yang keliru atau perlu diluruskan.

Dalam bukunya pada halaman 25, Lewis menyatakan bahwa  Eropa dianggap sebagai agama musuh (bagi umat Islam) yang memiliki klaim  dalam mendakwahkan  dan melaksanakan pesan dan hukum universal ke seluruh umat manusia. Padahal pada tahun 1487 M ketika itu tim Inkuisisi Spanyol mendzalimi dan menyiksa ribuan Muslim, Yahudi dan Kristen yang tidak sepaham dengan Gereja-dengan sangat keji dan tidak berperikemanusiaan. Ada tujuh belas pengadilan Inkuisisi di Spanyol dan masing-masing membakar rata-rata 10 pelaku bid’ah dalam Katolik. Setahun  Tim  Inkuisisi menyiksa dan memotong kaki atau tangan ribuan orang lainnya yang hampir tidak bisa pulih dari luka-lukanya. Selama masa Inkuisisi di Spanyol diperkirakan ada sekitar 32.000 orang yang kesalahannya tidak sepaham dengan doktrin Paus, atau yang telah dituduh melakukan kejahatan takhayul kemudian disiksa di luar imajinasi kemudian dibakar hidup-hidup.[10]

Proses penyiksaan itu diketuai oleh  Paus Innocentius VIII dan menyuruh pendeta Dominikan dan Tomas de Torquemada sebagai pelaksana Inkuisisi Agung. Jika demikian adanya apakah bisa kejahatan dan penyiksaan umat manusia atas nama agama kemudian dapat dibenarkan sebagai hukum universal ?

Masih pada halaman yang sama, Lewis mengatakan, “Umat Islam meyakini bahwa perang hanya akan berakhir bila kalimah Allah fil al-ardh telah ditegakkan di seluruh permukaan bumi.”. Dalam kasus ini ia beranggapan bahwa Islam adalah agama perang atau ketika dalam menyebarkan agamanya hanya lewat perang.

Penulis berhipotesa bahwa Lewis tidak utuh atau tidak adil dalam mengkaji sejarah peradaban Islam, tentunya sejarah peradaban Islam dari zaman kerasulan Muhammad  Saw. hingga zaman ia (Bernard Lewis) hidup. Padahal tidak demikian adanya, sebab sudah terbukti dalam sejarah bahwa Muhammad Saw. adalah pemimpin tertinggi umat Islam yang sering memulai dakwahnya dengan cara menawarkan Islam pada umat yang belum mengenal ajaran Islam. Ada beberapa penguasa yang oleh Rasulullah pernah dikirimi surat yang berisikan tentang  ajakan masuk Islam, di antaranya Raja Heraclius (kaisar Romawi), Raja Negus (penguasa  Ethiopia), dan Raja Khusrau (penguasa Persia). Juga ketika Rasulullah Saw berdakwah ke Tha’if, yang pada waktu itu beliau malah dilempari batu oleh kaumnya hingga kakinya berlumuran darah. Beliau  tidak melawan, bahkan malah mendoakan kaumnya jika hari itu tidak menerima Islam, namun anak-cucu keturunannya diharapkan bisa mendapatkan hidayah Islam nantinya.

Kemiripan Peribadatan

Berikutnya, pada halaman 26, Lewis membuat paragraf baru dengan menyatakan:
“Memang sudah jadi kenyataan, Kristen dan Islam satu sama lain saling mengkafirkan, namun sebenarnya pada saat yang bersamaan, keduanya memiliki kemiripan bahkan dalam segi peribadatan sekalipun.  Keduanya mengaku memiliki universalitas kebenaran yang final dari Kalam Tuhan, dan tugas merekalah untuk menyebarkan kebenaran tersebut ke seluruh permukaan bumi.”

Tentu pernyataan Bernard Lewis di atas perlu untuk diluruskan. Pertama, ia berpendapat  bahwa Islam dan Kristen memiliki kemiripan dalam segi peribadatan. Dalam Islam  ada ibadah sholat, puasa, membayar zakat dan menunaikan  haji-yang kesemuanya itu merupakan ibadah pokok umat Islam. Ibadah-ibadah tersebut dikuatkan oleh dalil-dalil dalam Al-Qur’an sebagai kitab pokok agama Islam. Di antara dalil-dalilnya ialah.

Artinya: “Dan dirikanlah sholat, dan tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku’.”. Q.S al-Baqarah ayat 43.

 
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Q.S al-Baqarah ayat: 183.
  

Artinya: “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” Q.S Ali Imran ayat: 97.

Dalam agama Kristen tentu tidak ada ibadah-ibadah seperti dalam agama Islam.  Ibadah dalam Kristen seperti keharusan merayakan Natal dan menyanyikan lagu-lagu di gereja tentu tidak sama dengan ibadah umat Islam, bahkan hal tersebut tidak mempunyai dasar dalam Bibel.

Kedua, Lewis berpendapat bahwa Islam dan Kristen memiliki keuniversalitas kebenaran yang final dari Kalam Tuhan. Tentu pendapat tersebut perlu untuk dikoreksi, sebab dalam agama Kristen hingga hari ini masih ada sekte yang memperdebatkan tentang teori trinitas.  Ada sekte Katolik dan Protestan yang bersikukuh mempercayai teori trinitas ketuhanannya.  Ada pula sekte dari Kristen yang menolak tentang teori trinitas ketuhanannya, mereka adalah kelompok Kristen Nestorian. Padahal teori tentang ketuhanan merupakan hal yang sangat pokok atau prinsip dalam suatu agama.

Salah satu ayat bibel berbunyi, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal engkau satu-satunya Allah yang benar, dan mengenai Yesus kristus yang telah engkau utus.” (Yohanes 17:3). Dalam ayat tersebut dengan  sangat jelas menjelaskan bahwa Tuhan itu satu dan Yesus merupakan seorang utusan. Tidak heran jika sampai hari ini  banyak umat Kristen yang kebingungan dengan teori trinitas. Sehingga banyak umat Kristen dan pendetanya lebih memilih menjadi seorang atheis-daripada hidup dalam kebingungan, namun tidak sedikit juga dari mereka yang akhirnya memeluk agama Islam.

Islam Mengadopsi

Kekeliruan Lewis selanjutnya adalah, ia menyatakan, “Islam memperoleh berbagai sumber sains dan filsafat  dari Yunani, hukum dan sistem pemerintahan dari Romawi, etika monoteis dari Yahudi”. Penulis akan mengulas pada paragraf berikutnya.
Pertama, Islam memperoleh berbagai sumber sains dan filsafat  dari bangsa Yunani tidaklah sepenuhnya benar. Sebab ketika Eropa mengalami the Dark Age banyak para ilmuwan muslim yang mengembangkan sains. Ilmuwan-ilmuwan Muslim ketika masa Dinasti Abasyiah  terkenal dengan penemuan-penemuan baru dalam bidang sains dan teknologi. Di antara Ilmuwan-ilmuwan Muslim yang terkenal seperti Ibnu al-Haitsam, Al-Khwarizmi, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Sina. Selain mereka sebagai ilmuwan Muslim, merek juga merupakan seorang ulama. Dasar mereka menemukan sains adalah karena inspirasi yang begitu besar dari ayat-ayat Al-Qur’anul Karim. Salah satu ayat yang menginspirasi mereka adalah ayat 190-191 dari surat Ali Imron, yang berbunyi
Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.”

Kedua, sejak kelahirannya yang dipimpin oleh Muhammad, Islam menggunakan sistem aturan yang berdasarkan dari kitab sucinya yaitu Al-Qur’an atas wahyu dari Allah. Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi dasar adalah :

“Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan Uli al-Amri diantara kamu. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasulnya (al-Sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)dan lebih baik akibatnya.” (Al-Qur’an Surat an Nisa ayat : 59)

“Dan apabila mereka ditimpa suatu hal, keamanan atau ketakutan, mereka siarkan (kepada musuh). Dan kalau mereka serahkan hal itu kepada Rasul atau kepada Ulil Amri (yang mempunyai urusan diantara kamu), niscaya orang-orang yang meneliti di antara mereka mengetahui hal itu.” (Al-Qur’an Surat an Nisa ayat : 83)
           
            Ketiga, istilah monoteisme bukanlah berasal dari Islam, jadi Islam tidak pernah meniru konsep monoteisme dari Yahudi ataupun agama lain. Islam mempunyai konsep tersendiri yang bernama tauhid, yang sangat berbeda dengan monoteisme. Adapun ayat-ayat Al-Qur’an yang berisikan konsep tauhid adalah: 

  
Artinya: “Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.” (QS. Al-Ikhlas ayat : 1)

Artinya : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imron ayat : 18)

3.      Kesimpulan
Kajian-kajian Lewis terhadap peradaban Islam terlihat tidak komprehensif. Wajar ia seorang orientalis Barat yang berangkat dari worldview yang berbeda dari umat Islam.  Dalam  memahami Islam, ia tampak kebingungan dalam mengartikan dan memahami istilah tauhid, jihad, dan tasamuh dalam Islam. Sehingga Lewis sering mengeneralisir ataupun mereduksi arti istilah-istilah yang sudah baku dalam Islam.
Islam bukanlah agama yang meniru atau turunan Yahudi dan Kristen, yang dalam Kristen menyebut sebagai bid’ah terbesar dari Kristen. Islam mempunyai konsep tauhid, yaitu konsep menunggalkan Allah. Tentu ini konsep yang tidak dipunyai oleh agama lain selain Islam. Wallahu a’lam bishawab.


Daftar Pustaka

Buku

Lewis, Bernard, “Kemelut Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi, Yogyakarta: IRCiSoD, 2001.
_____________, “Assassin: Kaum Pembunuh dari Lembah Alamut, (Yogyakarta: Haura Pustaka, 2009.

Internet
http://www.muslimdaily.net/artikel/studiislam/kekejaman-dewan-inkuisisi-gereja-spanyol.html  di akses pada tanggal 17 Januari 2016 pukul 10.23 wib. 












[1] Makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Islamic Worldview, yang di ampu oleh ustad Arif Wibowo, S.P., M.P.I  dan  ustad Muhammad Isa Anshory, S.S., M.P.I.
[2] Maha Santri Ma’had Aly Imam Al Ghozaly, Karanganyar, Jawa Tengah.
[3] Bernard Lewis, Kemelut Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi, (Yogyakarta: IRCiSoD, 2001), hlm.  9.
[4] Bernard Lewis, Assassin: Kaum Pembunuh dari Lembah Alamut, (Yogyakarta: Haura Pustaka, 2009), pada lampiran terakhir sebelum sampul belakang.
[5] Bernard Lewis, Kemelut Peradaban Kristen, Islam Dan Yahudi., Op.cit., hlm. 20.
[6] Ibid, hlm. 22.
[7] Ibid, hlm. 23,24,25.
[8] Ibid, hlm. 26.
[9] Ibid, hlm. 26-27.

1 komentar:

  1. Is the casino safe and legal to play online - DRMCD
    The casino 바카라 안전 사이트 is owned and operated by Casino Rewards, a 정읍 출장샵 new gaming provider, 김해 출장안마 “The casino 동두천 출장샵 is a very safe and secure online 광명 출장마사지 casino.”

    BalasHapus